BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Tuesday, July 21, 2009

Lobak Merah, Telur, Dan Kopi

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannnya dan
menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan
baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah
kalah dalam kehidupan. Ia sudah letih untuk berjuang. Sepertinya
setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya seorang tukang masak, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3
periuk dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di ketiga-
tiga periuk tersebut mendidih. Ia menaruhkan lobak merah di dalam
periuk pertama, telur di periuk kedua dan ia menaruh serbuk kopi di
dalam periuk terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata.
Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan sabar, memikirkan apa yang
sedang dikerjakan oleh ayahnya.

Setelah 20 minit, si ayah mematikan api. Ia menyisihkan lobak dan
menaruhnya di dalam mangkuk, mengangkat telur dan meletakkan di dalam
mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk yang lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?"

" Lobak, telur dan kopi" , jawab si anak.

Ayahnya mengajaknya mendekati mangkuk dan memintanya merasakan lobak
itu. Ia melakukannya dan merasakan bahawa lobak itu terasa enak.
Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah
membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum
ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, " Apa erti semua ini, ayah?"

Ayahnya menerangkan bahawa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang
sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang
berbeda. Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan.
Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan lunak. Telur
sebelumnya mudah pecah. Cengkerang tipisnya melindungi isinya yang
berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Serbuk
kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan
air, serbuk kopi merubah air tersebut.

"Kamu termasuk yang mana?" Tanya ayahnya. "Air panas yang mendidih
itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui … ketika
kesukaran dan kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya?
Apakah kamu lobak, telur atau kopi?"

Bagaimana dengan diri kita?

Apakah kita adalah lobak yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya
penderitaan dan kesulitan, kita menyerah, menjadi lembut dan
kehilangan kekuatan diri.

Atau… apakah kita seperti telur, yang awalnya memiliki hati lembut,
dengan jiwa yang dinamis? Namun setelah adanya kematian, patah hati,
perceraian atau kegagalan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan
sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati
yang kaku?

Ataukah kita adalah serbuk kopi? Serbuk kopi merubah air panas,
sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang
maksimal pada suhu 100 darjah celsius. Ketika air mencapai suhu
terpanas, kopi semakin nikmat. Jika kita seperti serbuk kopi, ketika
keadaan semakin buruk, kita akan menjadi semakin baik dan membuat
keaadaan di sekitar kita juga menjadi semakin baik.

0 comments: